Robere &  Associates

Risk Base Thinking Vs. Mudik 2016

page-title
Apa kaitan antara kemacetan arus mudik dengan risk base thinking maupun manajemen resiko?

Ketika lebaran tiba, semua warga ibu Kota berencana untuk mudik ke kampung halaman, pemerintah dengan sigap mempersiapkan infrastruktur untuk arus mudik bagi warganya. Seperti pada arus mudik dari tahun ke tahun pemerintah sudah melarang kendaraan niaga seperti truk dan trailer yang memuat selain bahan pokok dan BBM untuk beroperasi sejak H-10 sampai dengan H+10 dari Hari Raya Lebaran, untuk mengurangi kemacetan yang terjadi. Akan tetapi, mengingat lebaran di tahun 2016 ini jatuh pada hari rabu dan kamis dimana pemerintah sudah memutuskan cuti bersama di hari senin, selasa dan jumat, sehingga semua pemudik terkonsentrasi untuk melakukan perjalanan mudik pada hari yang hampir bersamaan, yaitu di hari jumat malam atau sabtu dan kembali ke Ibu Kota atau tempat tujuannya pada hari yang hampir bersamaan juga yaitu hari sabtu dan minggu setelah lebaran, mengingat hari senin semua sudah harus beraktifitas seperti biasa sesuai dengan anjuran dari pemerintah.

Berbeda dengan tahun 2015, arus mudik maupun arus balik di tahun 2016 ini terjadi dalam kurun waktu yang relatif bersamaan, hal ini mengakibatkan kemacetan yang sangat luar biasa di sejumlah ruas jalan, baik tol, jalan raya maupun jalur alternatif. Usaha pencegahan yang sudah dilakukan oleh pemerintah dari tahun ke tahun berupa pelarangan kendaraan niaga seperti truk dan container untuk beroperasi tampaknya tidak berhasil mengurangi kemacetan. Skandal BREXIT menjadi pemberitaan di media social, semua meributkan arus mudik yang macet total di Exit tol Brebes (BREXIT). Pemerintah melalui Kementrian Perhubungan, Jasa Marga maupun Keementrian Pekerjaan Umum menyiapkan solusi alternative, dimana akses gerbang tol dan pembayaran dikurangi menjadi 3 gerbang saja, pembayaran dengan menggunakan e-toll disiapkan, bahkan nominal biaya tol yang seharusnya pecahan pun dibulatkan oleh pemerintah dengan resiko kerugian pendapatan negara maupun pihak Jasa Marga, akan tetapi solusi tersebut ternyatan tidak cukup ampuh. Kemacetan tetap terjadi, pemerintah dihujat, dan bahkan menteri di kementerian yang terkait diminta mundur.

Mari kita kembali ke 3 tahun lalu, ketika jalan tol masih terbatas di keluaran cikampek, kemacetan terjadi di ruas simpang Jomin yang merupakan ujung dari tol Cikampek, kemudian tahun lalu ketika Tol Cipali sudah siap digunakan, kemacetan berpindah ke simpang Pejagan, dan puncak kemacetan arus mudik tahun 2016 adalah di BREXIT, mungkin tahun depan puncak kemacetan akan pindah lagi ke arah timur mendekati kota Semarang atau bahkan Solo atau mungkin Surabaya di tahun 2018 ketika tol Trans Jawa sudah diselesaikan sesuai rencana pemerintah.

Jadi, apa kaitan antara kemacetan arus mudik dengan risk base thinking maupun manajemen resiko. Mari kita lihat secara menyeluruh hubungan tersebut:

Dari keempat solusi inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah di atas, tampak bahwa ada perbedaan antara risk base thinking dengan manajemen resiko, dimana inisiatif 1 dan 2 merupakan bentuk manajemen resiko yang relative sistematis, terencana, dan terdapat metode evaluasinya sedangkan untuk inisiatif 3 dan 4 adalah bentuk risk base thinking, lebih bersifat situasional akan tetapi juga bersifat mengurangi resiko. Dari keseluruhan alternative tersebut tampak bahwa pemerintah tidak tinggal diam untuk mengurangi resiko kemacetan yang selalu terjadi setiap libur panjang terutama pada saat lebaran, akan tetapi hal tersebut masih dapat terus ditingkatkan dengan evaluasi dan pelaksanaan manajemen resiko yang lebih baik lagi,misalnya dengan mengatur jadwal hari libur yang dibedakan antara pegawai negeri dan pegawai swasta atau dengan menyiapkan moda alterntif seperti kereta dan tol laut yang sempat diwacanakan pada masa kampanye. Satu yang pasti, setiap resiko pasti harus dipikirkan pencegahannya dengan sekedar berpikir saja, kita sudah melakuan risk base thinking. Lihat juga Article 5: Risk Base Thinking Vs. Risk Management